RELAWAN RI : MALAM MAUT DI GAZA, TAK ADA JAMINAN KONDISI TETAP NORMAL

  Relawan RI: Malam Maut di Gaza, Tak Ada Jaminan Kondisi Tetap Normal

Relawan Indonesia yang tinggal di Gaza bercerita tentang kondisi saat terjadi saling serang dengan Israel yang digambarkan sebagai "malam maut" dan hidup tanpa jaminan kondisi akan tetap normal.

Aksi balas serangan antara Israel dan kelompok milisi Hamas di Gaza pecah selama dua hari setelah tujuh anggota Hamas dan seorang tentara Israel tewas dalam operasi rahasia Israel Minggu, 11 November.

Selama dua hari, Senin 12 November dan Selasa 13 November lalu, kelompok-kelompok di Gaza dilaporkan menembakkan lebih 460 roket ke arah Israel dan pasukan Israel mengebom 160 sasaran di Gaza.

"Bagi saya, itu malam mencekam, malam maut, mengapa? Sekitar jam tiga subuh ada sebuah rumah susun warga Gaza enam lantai diserang rudal secara beruntun. Dalam hitungan menit rusun tersebut hancur rata tanah, dan gedung tersebut hanya berjarak sekitar 600 meter dari tempat tinggal saya. Dentuman rudal benar-benar terasa seakan lapisan kuping pecah," cerita Abdillah Onim, tentang insiden saling serang Israel-Hamas, Selasa lalu.

Onim yang telah tinggal di Gaza sejak 2009 mengatakan ia bercerita kepada anak-anaknya dentuman itu hanyalah "kembang api".

"Saya sampaikan bahwa suara itu hanya balon atau kembang api yang pernah mereka dengar di Jakarta saat malam pergantian tahun," kata ayah tiga anak tersebut.

"Saya sebagai warga negara asing tentu panik karena serangan sangat masif dari sana-sini, sampai semalam penuh tidak bisa tidur. Dalam kondisi begini, untuk waspada saja maka semua barang dokumen seperti paspor dan lain-lain, saya masukan dalam tas ransel. Jika terjadi sesuatu maka kami harus keluar rumah dengan membawa apa adanya," tambahnya.

Gempuran udara Israel menyasar ke studio stasiun televisi kelompok Hamas, Al-Aqsa.

Tak ada jaminan tetap normal
Seorang relawan Indonesia lain, Reza Abdilla, yang tinggal tak jauh dari lokasi "pejuang Palestina meluncurkan roket" juga merasakan getaran di rumahnya.

"Getaran sangat terasa, debu dan pasir jatuh dari plafon. Daerah rumah saya ini dekat tempat latihan pejuang Gaza, sekitar 100 meter, di depan dan samping, jadi sangat rawan di daerah sini," kata Reza, relawan MER-C badan medis dan kemanusiaan.

Warga Gaza sendiri biasanya diminta untuk tetap di rumah dan tidak berkumpul bila terjadi saling serang seperti ini.

"Jalan agak sepi dan warga disuruh berhati-hati. Tidak ada tempat berlindung lagi. Jadi ya di rumah, pasrah saja, karena kalau ada serangan, terjadinya brutal, tak tentu arah," tambahnya.

Aksi saling serang mereda pada Rabu (14/11) setelah kabinet Israel memutuskan menerima gencatan senjata guna mengakhiri perang dua hari dengan kelompok-kelompok Palestina di Gaza.

Namun Abdillah Onim menyatakan walaupun kondisi tampak kembali normal, namun "tak ada jaminan kondisi tetap normal karena bisa saja dalam beberapa detik atau beberapa jam kemudian terjadi serangan serentak lagi."

Bus yang terkena gempuran Israel di Gaza.

"Tak ada tempat berlindung....tak ada ketakutan di wajah mereka'
Saling serang selama dua hari antara kelompok Palestina dan Israel itu disebutkan sebagai yang paling parah sejak 2014 dan 2012.

Muhammad Husein, relawan Indonesia lain di Gaza, juga pernah mengalami perang terparah sebelumnya.

Husein mengatakan apa yang dia saksikan tak pernah dia lihat di manapun di dunia, yaitu ketahanan warga Palestina.

"Apa yang saya lihat, fenomena yang tak ditemukan di manapun, dengan segala keterbatasan dan kekurangan dan penderitaan yang dihadapi namun warga Palestina berhasil bertahan dalam episode agresi militer besar," kata Husein.

"Perlawanan para pejuang Palestina di Gaza membuat petinggi politik dan militer Israel seperti kebakaran jenggot," tambahnya.

Ia juga mengatakan bila terjadi saling serang, warga Palestina tak memiliki tempat perlindungan.

"Tidak ada perlindungan bagi mereka (warga Palestina) seperti pemukim Yahudi di Israel kalau pertempuran terjadi. Pemerintah (Israel) membuka bunker untuk warga, tapi di Gaza tidak."

"Semua jadi target serangan udara, serangan darat bahkan laut, tapi saya lihat tak ada ketakutan sama sekali di wajah mereka," tambah Husein.

Utusan khusus PBB Nickolay Mladenov mengatakan apa yang terjadi tanggal 12 dan 13 November lalu itu "sangat berbahaya". Pihaknya berupaya mengangkat Gaza lagi dari perang.

Wartawan BBC Tom Bateman yang berada di Israel selatan mengatakan kondisi tenang dalam bulan-bulan terakhir ini merupakan hasil diplomasi yang dilakukan perwira intelijen Mesir dan utusan PBB Nickolay Mladenov.

Ia mengatakan Hamas berupaya untuk melonggarkan blokade yang dilakukan Israel dan Mesir terhadap Gaza di tengah memburuknya perekonomian sementara Israel menginginkan ketenangan di Gaza.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEDERET PENGHORMATAN TINGGI DARI JOKOWI UNTUK ANI YUDHOYONO

10 OLAHAN MOCHI ENAK DAN PALING TERKENAL, DIJAMIN BIKIN GAGAL DIET!

SAH! 10 MOMEN AKAD NIKAH SELEBGRAM AKFY SAGA & FATMA